Penyakit Alergi pada Mata

wp-1465151237339.jpgPenyakit Alergi pada Mata

Penyakit alergi pada mata yang paling sering didapat adalah konyungtivitis alergik     (hay fever), konyungtivitis vernalis, keratokonyungtivitis atopik, dan konyungtivitis giant papilar. Keadaan penyakit dapat mulai dari konyungtivitis ringan sampai yang berat seperti keratokonyungtivitis atopik yang dapat menyebabkan kebutaan.

Konyungtiva adalah mukosa permukaan bola mata, setara dengan epitel usus dan bronkus, yang berhubungan dengan sel dan berfungsi sebagai pertahanan terhadap antigen dan mikroorganisme dari luar. Konyungtiva dan jaringan limfoid di daerah tersebut akan memproses antigen sehingga timbul sel T dan sel B yang sudah tersentisasi, yang telah siap dengan respons imunnya bila timbul rangsangan dari luar.

Walaupun imunopatogenesis penyakit ini bervariasi, tetapi sel mast dan basofil memegang peranan karena banyak terdapat pada lamina propria konyungtiva dan kelopak mata.

KONYUNGTIVITIS VERNALIS

Etiologi

Penyebab konyungtivitis vernalis adalah alergen lingkungan seperti debu rumah, tungau debu rumah, serpihan binatang piaraan, dan makanan.

Patogenesis

Pada penyakit ini terdapat IgE pada sel mast di subepitel. Asosiasi antigen dan IgE akan merangsang degranulasi sel mast mengeluarkan amin vasoaktif. Walaupun terdapat banyak degranulasi eosinofil dan sel mast di jaringan yang menandakan peran hipersensitivitas tipe I, mekanisme ini tidak dapat menerangkan semua kelainan pada konyungtivitis vernalis, mungkin respons imun selular juga turut berperan.

Antibodi dapat dikatakan berperan pada patogenesisnya bila terdapat kumpulan sel plasma atau eosinofil di jaringan mata yang sedang meradang, atau bila kelainan mata berhubungan dengan penyakit inflamasi pada bagian tubuh lain oleh mediasi antibodi. Kelainan mata sering diikuti penyakit atopi lain seperti asma, rinitis alergik, atau dermatitis atopik dibandingkan dengan individu normal.

Diagnosis

Pada sediaan apus sedikit mata terdapat banyak sel eosinofil. Tes kulit dapat membantu mencari alergen yang sering berpengaruh pada penyakit ini seperti debu rumah, tungau debu rumah, epitel binatang piaraan, dan makanan.

Manifestasi klinis

Konyungtivitis vernalis adalah konyungtivitis berat yang mengenai kedua mata, sering muncul pada usia 3-25 tahun tetapi pada sebagian besar penderita gejala akan berkurang pada usia sekitar 20 tahun, dan berhubungan dengan faktor iklim. Vernal artinya eksaserbasi musiman, walaupun tidak ada asosiasi langsung antara gejala dan alergen musiman. Gejala lebih hebat pada udara panas dan kering, dan akan berkurang atau hilang bila udara dingin. Rasa sakit dan fotofobia dapat hebat.

Terdapat 2 bentuk konyungtivitis vernalis, yaitu bentuk palpebra dan limbus. Bentuk palpebra mengenai konyungtiva tarsalis palpebra superior dengan gambaran mata mucin dengan banyak papil disebut giant papillae (cobblestone). Bentuk limbus menunjukkan hipertrofi papil gelatin yang sering tampak sebagai bintik-bintik kapur putih yang berisi sel eosinofil disebut sebagai titik Tranta. Epitel kornea dapat lepas atau dapat menimbulkan ulkus kornea.

Pengobatan

Tindakan utama adalah penghindaran alergen serta memberikan lingkungan yang sejuk dan dingin. Pada keadaan ringan pengobatan cukup dengan memberikan kompres dingin serta antihistamin untuk mengurangi rasa sakit. Dapat pula diberikan tetes mata natrium kromolin dikombinasi dengan vasokonstriktor dan antihistamin. Pada konyungtivitis vernalis sedang dapat diberikan kortikosteroid tetes mata kortikosteroid, sedang pada keadaan berat dapat ditambahkan kortikosteroid sistemik. Imunoterapi dengan alergen spesifik dapat dicoba.

KERATOKONYUNGTIVITIS ATOPIK

Penyebab keratokonyungtivitis atopik adalah alergen lingkungan seperti debu rumah, tungau debu rumah, serpihan binatang piaraan, dan makanan.

 

Patogenesis

  • Pada penyakit ini terdapat IgE pada sel mast di subepitel. Asosiasi antigen dan IgE akan merangsang degranulasi sel mast mengeluarkan amin vasoaktif. Kelainan sel sering diikuti penyakit atopik lain seperti asma, rinitis alergik, atau dermatitis atopik dibandingkan dengan individu normal.

 

Diagnosis

  • Pada sediaan apus sekret mata terdapat banyak eosinofil. Tes kulit dapat membantu mencari alergen yang sering berpengaruh pada penyakit ini seperti debu rumah, tungau debu rumah, epitel binatang piaraan, dan makanan.

Manifestasi klinis

  • Penyakit ini adalah menahun dan mengenai kedua belah mata dengan rasa sakit dan rasa seperti terbakar yang hebat. Pada penyakit yang berat tampak serat benang mukopurulen di konyungtiva. Kelopak mata menebal dengan indurasi dan likenifikasi, kadangkala terdapat perlengketan jaringan parut antara bola mata dengan kelopak mata. Sering diikuti infeksi dengan kuman stafilokokus dengan gambaran hiperemi dan keropeng pada kelopak mata.
  • Palpebra inferior dan konyungtiva yang sering terkena akan memberikan tanda konyungtivitis papilaris menahun. Konyungtiva limbus menebal dengan penimbunan gelatin, kemudian dapat terjadi perubahan kornea yang berat dengan jaringan parut superfisial, vaskularisasi epitel berulang, dan akhirnya perforasi kornea. Kelainan ini lebih sering diderita anak laki-laki usia usia pubertas dan akan membaik pada usia sekitar 50 tahun.

Pengobatan

  • Penghindaran alergen dan memberikan lingkungan yang sejuk merupakan tindakan awal yang perlu dilakukan. Pengobatan dengan tetes mata natrium kromolin 4% dikombinasi dengan antihistamin topikal dan kortikosteroid untuk mengurangi rasa sakit, tetapi harus hati-hati bila sudah terjadi ulkus kornea.

An Algorithm For the Differential Diagnosis of Red Eye  to allergies Conjunctivities

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s