Gangguan Hormonal Pada Anak dan Remaja Dengan Riwayat Alergi

Gangguan keseimbangan hormon dipengaruhi beberapa faktor kimiawi yang sama, dan perubahan dalam masing-masing komponen dapat mempengaruhi seluruh sistem. Itu berarti bahwa segala sesuatu yang mempengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh dapat berdampak pada sistem kekebalan tubuh serta apa saja-dan yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh juga dapat mempengaruhi alergi. Perubahan kadar tingkat hormon dan regulasi dapat memiliki dampak yang signifikan pada kedua insiden alergi dan tingkat keparahan gejala alergi. Meskipun mekanisme tidak selalu dipahami dengan baik, perubahan kadar hormon ini sering berhubungan dengan terjadinya alergi atau perubahan gejala alergi, terutama untuk hay fever, asma, dan dermatitis. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kadar hormon, termasuk pola makan, beberapa jenis obat, dan stres.Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa faktor-faktor ini juga bisa memicu atau memperburuk alergi.Penelitian juga menunjukkan alergi sering dipicu atau diintensifkan oleh transisi tubuh alami dan siklus seperti pubertas, kehamilan dan menopause.

Masa pubertas

  • Masa transisi fisik seorang anak yang beranjak dewasa merupakan salah satu phal penting yang harus diamati ketika hormon tubuh secara alami perubahan.  Hal ini dimulai ketika sebagian dari otak memicu pelepasan hormon dari kelenjar pituitari dan kelenjar adrenal.  Pada wanita, tingkat progesteron dan meningkatkan estrogen; laki-laki memulai produksi testosteron.  Meskipun para ilmuwan belum memahami bagaimana dan perubahan hormon lainnya mempengaruhi alergi, pubertas telah diamati untuk memicu terjadinya alergi pada beberapa individu.  Pada orang lain, itu dapat memperburuk atau memperbaiki gejala alergi.

Siklus menstruasi

  •  engaruh lain yang terjadi secara alamiah pada tingkat hormon tubuh adalah siklus menstruasi perempuan.  Tingkat peningkatan hormon progesteron segera sebelum dimulainya menstruasi dan tetap tinggi sampai berakhir.  Lebih dari 40% wanita menemukan bahwa gejala asma mereka memburuk selama waktu ini. . Satu studi juga menemukan hubungan antara pengembangan alergi dan siklus haid tidak teratur.  Dalam studi ini, wanita yang telah siklus menstruasi yang tidak teratur adalah 29% lebih mungkin terjadi manifestasi alergidan 54% lebih mungkin berkembang menjadi  asma.

Menopause Mati haid

  • Selama menopause, ovarium seorang wanita penurunan produksi estrogen dan progesteron.  Sama seperti perubahan hormon selama pubertas, menstruasi, dan kehamilan dapat mempengaruhi alergi, penurunan mereka selama menopause juga dapat menyebabkan perubahan manhifestasi alergi. Karena wanita yang berbeda tampak telah kepekaan yang berbeda untuk estrogen dan progesteron, wanita yang berbeda mengalami efek yang berbeda terhadap alergi.
  • lain untuk alergi dengan keterkaitan hormon adalah risiko yang lebih besar di antara wanita premenopause mengembangkan suatu penyakit autoimun.  Penyakit autoimun seperti artritis, penyakit celiac, penyakit Chron’s, lupus, rheumatoid arthritis, diabetes insulin-dependent dan multiple sclerosis (MS) pada dasarnya alergi terhadap sel sendiri atau jaringan. Pada kelompok ini mengalami tiga kali lebih sering terjadi pada wanita premenopause daripada di seluruh populasi.  Kelompok ini  cenderung muncul selama atau segera setelah pubertas, dan tingkat keparahan mereka diketahui dipengaruhi oleh tingkat hormon, meskipun tidak diketahui bagaimana terjadim ekanismenya.

Tanda dan gejala gangguan hormonal yang sering terjadi pada penderita alergi

Pada Anak dan Remaja :

  • Rambut berlebihan di kaki atau tangan
  • Keputihan atau “Candidiasis hipersensitivity”
  • Keringat bau seperti orang dewasa
  • Rambut rontok atau kebotakan (alopecia karena jamur) biasanya sering terjkadi pada anak perempuan
  • Gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Gangguan berat badan berlebihan (kegemukan) atau sebaliknya gangguan kenaikkan berat badan (kurus)

Beberapa Hormon yang berkaitan dengan alergi dan gejalanya

Seperti yang terlihat dalam gambar, bila  proses alergi itu berlangsung maka diduga bisa terjadi perubahan beberapa hormon tubuh yang berakibat beberapa gangguan diantaranya adalah :

  • Peningkatan hormon adrenalin bisa menimbulkan kecemasan, panik, perasaan labil.
  • Penurunan hormon kortisol menurun bisa mengakibatkan kelelahan atau lemas.
  • Peningkatan hormon progesteron dapat mengakibatkan gangguan kulit kulit kering di bawah leher tapi di atas leher berminyak dan rambut rontok. Pada anak yang lebih besar yang sudah mengalami menstruasi, peningkatan hormon progesteron dapat menyebabkan gangguan sindrom premenstrual. Gejala sindrom premenstrual meliputi sakit kepala, migrain, nyeri perut, mual, muntah, menstruasi tidak teratur, menstruasi darah berlebihan.
  • Penurunan hormon estrogen, hormon metabolik dan hormon kortisol

Manifestasi Alergi

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

(Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK DAN REMAJA
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat  berbau.
  • FATIQUE :  mudah lelah, sering minta gendong
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK DAN REMAJA
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI dan Depresi (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)
KOMPLIKASI  SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu  atau mengalami Infeksi Telinga
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING. 
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  
Bila tanda dan gejala  Gangguan Hormonal  tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin berbagai gangguan hormonal  tersebut dipengaruhi  karena alergi atau hipersenitifitas makanan. Atau sebaliknya perubahan hormona memperberat manifestasi alergi yang ada.
  
Gejala alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut diperberat saat terjadi gangguan perubahan hormonal seperti :
  • Saat kehamilan atau beberapa bula paska persalinan
  • Saat menjelang menstruasi
  • Saat menopause
Memastikan Diagnosis
  • Diagnosis gangguan hormonal  tersebut dipengaruhi  karena alergi atau hipersenitifitas makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

 PENATALAKSANAAN 

  • Penanganan  gangguan hormonal  tersebut dipengaruhi  karena alergi atau hipersenitifitas makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis seperti anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesase prostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dlamkeadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.

Obat

  • Pengobatan Gangguan Hormonal dan keterkaitan dengan Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan beberapa cara dan strategi untuk menangani Gangguan Hormonal dan keterkaitan dengan Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan tidak akan berhasil selama penyebab utama  alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.
  • Sejak hormon memainkan peran penting dalam mengatur kejadian dan tingkat keparahan alergi, sangat mungkin hormon juga berperan dalam pengobatan alergi.  hormon sintetis yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis alergi.
  • Kortikosteroid adalah kelompok hormon yang dihasilkan oleh lapisan luar kelenjar adrenal.  Kelompok ini mencakup kortisol, dan semua anggotanya memiliki efek anti-inflamasi luas. Inhaled synthetic corticosteroids are the primary maintenance medication used for asthma prevention. sintetik kortikosteroid inhalasi adalah obat perawatan utama yang digunakan untuk pencegahan asma. Kortikosteroid bisa disuntikkan untuk pengobatan peradangan sistemik yang berhubungan dengan alergi atau asma, atau dioleskan untuk mengobati peradangan lokal.
  • Adrenalin, juga dikenal sebagai epinefrin, adalah hormon alami yang dilepaskan oleh kelenjar adrenal sebagai respons terhadap stres.  Hal ini memicu peningkatan denyut jantung dan aliran darah meningkat menjadi otot dan otak, kegiatan yang kontra beberapa gejala anafilaksis, juga dikenal sebagai shock alergi.   Adrenalin sintetis , atau epinefrin, digunakan untuk mengobati anafilaksis, karena alasan ini, orang-orang dengan alergi parah sering akan membawa epinefrin yang dikelola sendiri (seperti EpiPen) dalam kasus eksposur terhadap allergen mengancam nyawa.
  • Alternatif pendekatan untuk alergi cenderung menekankan teknik pengurangan stres, terapi nutrisi secara alami mengembalikan tingkat sehat kortisol (hormon stres) dan hormon lainnya, dan sesuai, solusi alami untuk membawa hormon kembali seimbang.  Pendekatan ini, integratif alami dapat mengurangi keparahan dari reaksi alergi atau bahkan menghilangkannya sama sekali.
  • Mengingat kompleksitas sistem kekebalan tubuh manusia, maka akan tahun sebelum pemahaman yang lengkap dari koneksi alergi-hormon muncul. Namun, hubungan yang jelas antara kedua ada, sehingga penting untuk mempertimbangkan komplikasi hormon mungkin sangat dikaitkan dengan pengobatan alergi.

Daftar Pustaka :

  • Roby RRRichardson RHVojdani A. Hormone allergy. Am J Reprod Immunol. 2006 Apr;55(4):307-13.
  • Mishuk VP, Saiapin SR.  Endocrine mechanisms of the pathogenesis of nocturnal asthma. Probl Tuberk Bolezn Legk. 2005;(8):57-60.
  • Russell R. Roby, Richard H. Richardson, Aristo Vojdani. Hormone Allergy. ,American Journal of Reproductive Immunology in April of 2006.
  • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ.Altered pituitary-adrenal interaction in nocturnal asthma. Allergy Clin Immunol. 2003 Jul;112(1):52-7. 
  • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ. Elevated serum melatonin is associated with the nocturnal worsening of asthma. J Allergy Clin Immunol. 2003 Sep;112(3):513-7. 
  • Gonzalez Barcala FJ, Pena A, Herrero L, Urtaza A, García Domínguez M, Valdes Cuadrado L. Young man with asthma and infertility. Monaldi Arch Chest Dis. 2009 Dec;71(4):180-1.
  • Frapsauce C, Berthaut I, de Larouziere V, d’Argent EM, Autegarden JE, Elloumi H, Antoine JM, Mandelbaum J. Successful pregnancy by insemination of spermatozoa in a woman with a human seminal plasma allergy: should in vitro fertilization be considered first? Fertil Steril. 2010 Jul;94(2):753.e1-3. Epub 2010 Feb 20.
  • Hanzlikova J, Ulcova-Gallova Z, Malkusova I, Sefrna F, Panzner P. TH1-TH2 response and the atopy risk in patients with reproduction failure. Am J Reprod Immunol. 2009 Mar;61(3):213-20.
  • Müller L, Vogel M, Stadler M, Truffer R, Rohner E, Stadler BM. Sensitization to wasp venom does not induce autoantibodies leading to infertility. Mol Immunol. 2008 Aug;45(14):3775-85. Epub 2008 Jul 15.
  • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ.  Altered pituitary-adrenal interaction in nocturnal asthma. J Allergy Clin Immunol. 2003 Jul;112(1):52-7. 
  • Bell, John R. “Some women may be allergic to hormones.” OB GYN News 41.9:19, 2006.
  • Fishman, Henry J., M.D. “Female Hormones May Affect Allergies, Asthma.” February 9, 2006.
  • National Women’s Health Resource Center. “Allergies and women’s health.” National Women’s Health Report 24:1, 2002.
  • “Puberty: Physiology.” Geneva Foundation for Medical Education and Research. <http://www.gfmer.ch/Endo/Lectures_10/Puberty_%20Physiology.htm#Adrenal%20Steroids&gt; (Accessed October 31, 2007.)
  • Roby, Russell R., Richard H. Richardson, and Aristo Vojdani. “Hormone Allergy.” American Journal of Reproductive Immunology 55:307, 2006.
  • Roby, Russell, M.D., J.D. “Hormone Imbalance – Hormone Allergy.” <http://www.onlineallergycenter.com/treatments/hormone_imbalance.htm&gt; (Accessed November 4, 2007.)
  • Shiel, William C., Jr., MD FACP FACR. “Cortisone Injection (Corticosteroid Injection) of Soft Tissues & Joints” <http://www.medicinenet.com/cortisone_injection/article.htm&gt; (Accessed November 1, 2007.)
  • Starnbach, Michael N. “The Truth About Your Immune System (Harvard Special Health Report).” Harvard Health Publications, 2004.
  • Tweed, Vera. “Women’s health handbook take charge of your hormones: are your hormones wreaking havoc with your health?” Better Nutrition 68: 44, 2006.
  • University of Texas at Austin. “Evidence Of Estrogen And Progesterone Hormone Allergy Discovered.” ScienceDaily 30 March 2006. 5 November 2007
  • Wilkinson, S.M., P.H. Cartwright, and J.S.C. English. “Hydrocortisone: an important cutaneous allergen.” The Lancet 337:761, March 1991.
  • Wurtzman, Mitchell. “New clues to premenstrual skin flare-ups.” Total Health 17 n.6:16, 1995.
  • Yawn, Barbara P. “Asthma therapy: does your patient need inhaled steroids?.” Consultant 43.9: 1073, 2003.
  •  Russell R. Roby, Dick Richardson, Relief of Asthma Symptoms with Dilutions of Progesterone”
  •  Russell R. Roby,  Dick Richardson. Prevention of Sinusitis Using Intranasal Influenzavirus Vaccine”
  • M.R. Sneller, and R.R. Roby. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. I. A 12-month study in and out of doors.”
  •  R.R. Roby, and M.R. Sneller. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. II. Correlations of skin tests with mold frequency.”
  • M.R. Sneller, R.R. Roby. and L.M. Thurmond, B.S.. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. III. Associations with local crops.”
  •  C. R. Mabray, M. L. Burditt, T. L. Martin, C. R. Jaynes, and J. R. Hayes,Treatment of Common Gynecologic-Endocrinologic Symptoms by Allergy Management Procedures
  • Joseph B. Miller, MD.Relief of Premenstrual Symptoms, Dysmenorrhea, and Contraceptive Tablet Intolerance”
  • NY Times review of Dr. Atkins’ Diet” July 7, 2002.
  • Mabray, MD, M. L. Burditt, MD, T. L. Martin, MD, C. R. Jaynes, MD, and J. R. Hayes,Treatment of Common Gynecologic-Endocrinologic Symptoms by Allergy Management Procedures. Obstetrics & Gynecology Vol. 59, No. 5, May 1982
  • Russell R. Roby, Richard H. Richardson, Aristo Vojdani,. “Evidence of estrogen and progesterone hormone allergy”  January 17, 2006.

wp-1510726155282..jpg

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s