Regulasi Sistem Komplemen

wp-1466351637181.jpgSistem komplemen adalah protein dalam serum darah yang bereaksi berjenjang sebagai enzim untuk membantu sistem kekebalan selular dan sistem kekebalan humoral  untuk melindungi tubuh dari infeksi. Protein komplemen tidak secara khusus bereaksi terhadap antigen tertentu, dan segera teraktivasi pada proses infeksi awal dari patogen. Oleh karena itu sistem komplemen dianggap merupakan bagian dari sistem imun bawaan. Walaupun demikian, beberapa antibodi dapat memicu beberapa protein komplemen, sehingga aktivasi sistem komplemen juga merupakan bagian dari sistem kekebalan humoral.

Komplemen yang biasanya disingkat dengan C adalah suatu faktor berupa protein yang terdapat di dalam serum. Seperti namanya, complement berarti tambahan. Faktor ini perlu ditambahkan dalam reaksi antigen dan antibodi, agar terjadi lisis antigen. Sistem komplemen adalah suatu sistem yang terdiri dari seperangkat kompleks protein yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Pada kedaan normal komplemen beredar di sirkulasi. darah dalam keadaan tidak aktif, yang setiap saat dapat diaktifkan melalui dua jalur yang tidak tergantung satu dengan yang lain, disebut jalur klasik dan jalur alternatif.

Aktivasi sistem komplemen menyebabkan interaksi berantai yang menghasilkan berbagai substansi biologik aktif yang diakhiri dengan lisisnya membran sel antigen. Aktivasi sistem komplemen tersebut selain bermanfaat bagi pertahanan tubuh, sebaliknya juga dapat membahayakan bahkan mengakibatkan kematian, hingga efeknya disebut seperti pisau bermata dua. Bila aktivasi komplemen akibat endapan kompleks antigen-antibodi pada jaringan berlangsung terus-menerus, akan terjadi kerusakan jaringan dan dapat menimbulkan penyakit.

Protein komplemen di dalam serum darah merupakan prekursor enzim yang disebut zimogen. Zimogen pertama kali ditemukan pada saluran pencernaan, sebuah protease yang disebut pepsinogen dan bersifat proteolitik. Pepsinogen dapat teriris sendiri menjadi pepsin saat terstimulasi derajat keasaman pada lambung.

Regulasi Sistem Komplemenwp-1466351637181.jpg

  • Aktivasi komplemen yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Dalam keadaan normal biasanya hal ini tidak terjadi karena adanya regulator untuk mengatur agar tidak terjadi reaksi terus menerus yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan . Sistem enzim yang kompleks ini diatur oleh beberapa protein penyekal yang dapat mencegah aktivasi prematur dan aktivasi memanjang setiap produk.
  • Aktivasi komplemen dikontrol melalui tiga mekanisme utama, yaitu 1) komponen komplemen yang sudah diaktifkan biasanya ada dalam bentuk yang tidak stabil sehingga bila tidak berikatan dengan komplemen berikutnya akan rusak, 2) adanya beberapa inhibitor yang spesifik misalnya C1 esterase inhibitor, faktor I dan faktor H, 3) pada permukaan membran sel terdapat protein yang dapat merusak fragmen komplemen yang

Regulasi jalur klasik Regulasi jalur klasik terutama terjadi melalui 2 fase, yaitu melalui aktivitas C1 inhibitor dan penghambatan C3 konvertase.

  1. Aktivitas C1 inhibitor  Aktivitas proteolitik C1 dihambat oleh C1 inhibitor (C1 INH). Sebagian besar C1 dalam peredaran darah terikat pada C1 INH. Ikatan antara C1 dengan kompleks antigen-antibodi akan melepaskan C1 dari hambatan C1 INH.
  2. Penghambatan C3 konvertase

Pembentukan C3 konvertase dihambat oleh beberapa regulator.

  • C4 binding protein (C4bp) dan reseptor komplemen tipe 1 (CR1) dapat berikatan dengan C4b sehingga mencegah terbentuknya C4b2b (C3 konvertase). Disamping itu kedua reseptor ini bersama dengan membrane cofaktor protein (MCP) juga dapat meningkatkan potensi faktor I dalam merusak C4b.
  • Decay accelerating faktor (DAF) dapat berikatan dengan C4b sehingga mencegah terbentulmya C4b2b.

Regulasi jalur alternative Jalur altematif juga di regulasi pada berbagai fase oleh beberapa protein dalam sirkulasi maupun yang terdapat pada permukaan membran.

  • Faktor H berkompetisi dengan faktor B dan Bb untuk berikatan dengan C3b. Juga CR1 dan DAF dapat berikatan dengan C3b sehingga berkompetisi dengan faktor B. Dengan adanya hambatan ini maka pembentukan C3 konvertase juga dapat dihambat. Faktor I, menghambat pembentukan C3bBb; dalam fungsinya ini faktor I dibantu oleh kofaktor H, CR1 dan MCP. Faktor I memecah C3b dan yang tertinggal melekat pada permukaan sel adalah inaktif C3b (iC3b), yang tidak dapat membentuk C3 konvertase, selanjutnya iC3b dipecah menjadi C3dg dan terakhir menjadi C3d.
  • Sel-sel yang berbeda menunjukkkan jumlah yang berbeda dari protein regulator MCP dan CRl, sehingga dapat mengontrol C3b dan pembentukan C3 konvertase. Kebanyakan sel tubuh normal mempunyai MCP dan CRl dalam jumlah besar sehingga dapat mencegah sel ini dari penghancuran oleh komplemen. Sebaliknya partikel asing dan mikroorganisme tidak mempunyai MCP dan CRl sehingga C3b yang berikatan pada sel tersebut tidak dihalangi untuk bereaksi dengan faktor Bb membentuk C3bBb yang selanjutnya dapat mengaktifkan jalur alternative.

Protein regulator pada aktivasi komplemen

Protein yang larut dalam serum
Protein Ikatan Fungsi Spesifik
C1 INH C1r, C1s1 Berikatan dan menghalangi partisipasi C1r dan C1s pada jalur klasik

Berikatan dengan C1 dan mencegah aktivasi spontan

Menghalangi aktivasi kalikrein, plasmin, faktor XIa dan XIIa pada sistem pembekuan

C4bp C4b Mempercepat perusakan C3 konvertase jalur klasik (C42b)

Ko-faktor I memecah C4b

Faktor H C3b (C3bBb) Mempercepat perusakan C3 konvertase jalur altenatif

Ko-faktor I memecah C3b

Faktor I C4b, C3b Memecah dan inaktivasi C4b dan C3b menggunakan C4bp, faktor H, CR1 atau MCP sebagai ko-faktor
Inaktivator anafilatoksin C3a, C4a, C5a Inaktivasi anafilatoksin (c3a, C4a, C5a)
Protein S C5b-7 Berikatan dengan C5b-7 dan mencegah terbentuknya kompleks serangan membran
SP-40, 40 C5b-9 Mengatur pembentukan kompleks serangan membran

 

Protein yang berikatan dengan membran sel
Protein Ikatan Distribusi Fungsi Spesifik
CR1 C3b, C4b, iCeb Hampir semua sel darah, sel mast Mempercepat pemecahan C3 konvertase klasik/alternatif

Ko-faktor I memecah C3b, C4b

berikatan dengan kompleks imun dan meningkatkan fagositosis dan pembersihan kompleks imun dari sirkulasi

MCP C3b, C4b Hampir semua sel darah (kecuali eritrosit), epitel, endotel, fibroblast Ko-faktor I memecah C3b, C4b
DAF C4b2b, C3bBb Hampir semua sel darah Mempercepat pemecahan C3 konvertase klasik/alternatf
HRF C8, C9 Eritrosit, limfosit, monosit, trmobosit, neutrofil Mencegah lisis sel normal

Mencegah terbentuknya kompleks serangan membran pada sel diri

Cd59 (MIRL) C7, C8 Sama dengan HRF Sama dengan fungsi HRF

 

Regulasi kompleks serangan membran

  • Reaksi komplemen yang berlebihan tetap dapat dicegah pada tingkat kompleks serangan membran bahkan setelah jalur klasik dan jalur altematif dapat diaktifkan. Pembentukan kompleks serangan membran dapat dihalangi oleh protein membran yang disebut homologaus restriction faktor (HRF) dan membrane inhibitor of reactive lysis (MIRL=CD59). Insersi kompleks serangan membran ke dalam sel dihalangi oleh protein S (vitronektin) dengan berikatan pada C5b,6,7. Kemampuan kompleks serangan membran untuk melisis sel juga dihambat oleh protein yang berada dalam sirkulasi yang disebut SP-40,40.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s